Seorang Pengusaha (Entrepreneur) harus mau belajar dari berbagai sumber. Menjadi pengusaha harus mau mendengar masukan-masukan yang datang dari orang sekitar dan mengimplementasikannya dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Pengusaha juga harus mengerti keadaan sosial masyarakat yang ada. Hal ini yang dinyatakan oleh dr.Hasto Wardoyo, SP. OG. (K), Bupati Kulonprogo saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Kewirausahaan bertema “Innovation, Technology and Social Entrepreneurship” Sabtu (6/5) di Ruang Sidang lantai 5 Gedung AR Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasto mencontohkan pengalamannya yang memelopori Gerakan Bela Beli Kulonprogo. “Jadi pengusaha tidak boleh sok tau, kita harus menghargai kearifan lokal dan kondisi sosial masyarakat. Kita bisa belajar dari mereka semua,”jelasnya.

Hasto melanjutkan semangat entrepreneurship-lah yang memotivasi dirinya untuk memajukan ekonomi rakyat di Kabupaten Kulonprogo. Beberapa produk yang sudah berhasil diproduksi oleh rakyat Kulonprogo yaitu Air Mineral, Batu Andesit dan Batik Gebleg Renteng. “Sebenarnya berangkat dari kegelisahan kami dari data tahun 2013 yang menunjukkan Koefisien Gini DI Yogyakarta (yang mengukur kesenjangan sosial) kedua tertinggi setelah Papua. Dan Kabupaten Kulonprogo menjadi daerah termiskin waktu itu. Dari kondisi itu, kami berpikir untuk menggarap sektor ekonomi kerakyatan melalui entrepreneurship,”lanjutnya.

Hasto memang dikenal dengan program Bela Beli Kulonprogo dimana selain menggerakkan ekonomi rakyat Kulonprogo, Hasto juga memasukkan ideologinya. “Bela Kulonprogo, maka harus membeli produk Kulonprogo”. Namun beliau menilai bahwa ada kelemahan yang ada di masyarakat Indonesia, setelah menjadi entrepreneur, yaitu sifat boros. “Kalau usaha mapan dan punya duit banyak, jangan boros. Saya nggak suka sifat boros. Di Kulonprogo sendiri pengeluaran tertinggi masyarakatnya adalah untuk rokok. Jangan jadikan sifat boros menjadi kebiasaan. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat kita melarang sponsor rokok di Kulonprogo,”ujarnya.

Dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), Hasto juga punya cara sendiri untuk tetap mengimplementasikan idenya. Menurutnya Indonesia harus memaksimalkan produk lokal untuk menguasai pasar sendiri karena dalam hal teknologi sudah kalah dengan negara lain. “Kita kalah kalau soal teknologi, maka kita maksimalkan potensi yang kita punya. Membuat produk lokal yang yang dipasarkan di pasar masyarakat sendiri. Kita harus idealis untuk mengkampanyekan produk-produk lokal untuk konsumsi masyarakat kita,”tandasnya. (bagas)