img201609241233021

Dalam rangka menyemarakkan acara Launching Fakultas Ekonomi (FE) menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Dekanat FEB mengadakan seminar nasional dengan tema “Membangun Daya Saing Bangsa dalam Perspektif Ekonomi dan Bisnis” yang diadakan di Gedung AR Fakhrudin B lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Sabtu (24/9).

Tidak tanggung-tanggung, FEB UMY mengundang orang-orang ternama sebagai moderator dan pembicara. Bersangkutan dengan tema utama, masing-masing pembicara menyampaikan materi yang berbeda namun saling berkesinambungan. Pembicara pertama, Yugi Prayanto selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan menyampaikan perihal Indonesia yang menjadi poros maritim dunia dan peluang usaha kemaritiman. “Indonesia sebagai poros maritim dunia memerlukan berbagai kebijakan khusus yang tepat untuk menarik pelaku usaha. Pertumbuhan perikanan budidaya dunia lebih besar dari pada perikanan tangkap. Oleh karena itu Indonesia perlu mengutamakan upaya peningkatan perikanan budaya.”

Beliau menambahkan, “Yang saya ingin tambahkan disini adalah perihal perikanan. Kenapa tidak kita coba bisnis perikanan ini dari yang kecil. Tidak semua bisa jadi pelaku usaha, ada yang tidak sukses, tapi balik ke diri masing-masing lagi. Kalau sekali dua kali gagal, stop kemudian ingin jadi pegawai negeri atau kerja, ya begitu saja. Tapi kita lihat, yang punya Kentucky Fried Chicken, usia 76 tahun baru sukses. Maksud saya, kalian masih muda. yang penting tidak perlu putus asa, jaga nama baik. Semangatnya dulu.”

Pembicara selanjutnya yaitu Dr. Masyhudi Muqorrobin, M.Ec., Akt. selaku Dosen Prodi Ilmu Ekonomi UMY. Beliau menyampaikan materi tentang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di perguruan tinggi dan perspektif ekonomi Islam dalam strategi pengembangan usaha yang kompetitif. “Yang paling penting disini adalah konektivitas disini memerlukan pengembangan SDM yang baik, karena tanpa itu kita tidak bisa bersaing. Menyambung Pak Yugi, sumberdaya terbesar kita ada di laut, namun kita butuh investasi yang besar. Solusi dalam perspektif ekonomi Islam sebenarnya memungkinkan. Kalau ingin memperbesar investasi domestik, maka kita harus mengurangi konsumsi. Dalam sistem perbankan Islam ini ada skema yang namanya mudharabah dan musyarakah. Namun ini tidak pernah dieksplor dengan baik oleh perbankan karena perbankan takut menghadapi risiko. Padahal kalau betul-betul menjadi pengusaha, harus mencapai maximum profit, bukan minimum risk.”

semnas1

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Suryo Pratolo, M.Si., CA., AAP-A. selaku Wakil Rektor II UMY mengenai pengembangan sumber daya manusia dalam dunia usaha menghadapi MEA dari sudut pandang good governance. Dalam bahasannya, beliau menyampaikan bahwa definisi dari Governance sendiri lebih luas daripada Management. “Kalau manajemen lebih kepada upaya yang dilakukan untuk menggerakkan organisasi mencapai tujuannya. Governance lebih luas, mengenai bagaimana menggerakkan organisasi dilakukan. Bisa diartikan sebagai Tata Pamong lah, jadi sekaligus membimbing.” Beliau melanjutkan, “Sekarang ini tantangan manajemen SDM adalah Moral Hazard, yaitu perliaku seseorang yang tidak peduli risiko dan ketidakjujuran yang bisa berdampak kerugian. Karena itu dibutuhkan good governance.”

Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D. selaku Dosen FEB Universitas Gajah Mada (UGM) selanjutnya menyampaikan mengenai tantangan dan peluang Indonesia dalam menghadapi globalisasi dan Masyarakat Ekonomi Asena (MEA). Dengan bahasan pengantar jumlah turis mancanegara ke masing-masing negara ASEAN yang tertinggi bukan Indonesia, Mudrajad Kuncoro berkata bahwa hal tersebut dikarenakan adanya kelemahan-kelemahan pada lokasi pariwisata di Indonesia, yaitu aksesibilitas, promosi, dan point of interests. Dijelaskan juga bahwa faktor penentu daya saing tidak hanya kekayaan alam atau pun kondisi makroekonomi yang kondusif saja, namun produktivitas juga sangat tergantung pada perbaikan kemampuan mikroekonomi dan tingkat persaingan lokal.

Mudrajad Kuncoro menyebutkan empat pilar peningkatan daya saing dan kesejahteraan masyarakat dan bangsa, “Ada empat pilar perubahan, yaitu memunculkan inovasi yang didorong ekonomi, meningkatkan inovasi, memperbaiki agen pembangunan ekonomi yang merupakan tugas dari perguruan tinggi, dan terakhir meningkatkan publikasi internasional.” Pada slide yang beliau tampilkan, terdapat quote “Buka lowongan kerja, bukan cari kerja. Seenak-enaknya jadi karyawan lebih enak punya karyawan!”

Sebagai penutup seminar, Rini Juni Astuti, SE, M. Si selaku moderator menyimpulkan bahasan dari empat pembicara seminar, “Untuk menghadapi persaingan, yang pertama dibutuhkan passion, semangat yang tinggi. Kedua membangun kemandirian sumber daya manusia, ketiga keunggulan dibangun dari keterlibatan dan ini juga memerlukan good governance, dimana good governance akan menghasilkan nilai, yang nantinya akan memberikan efek luar biasa pada kepemimpinan dan mungkin akan membuat semua proses manajemen itu akan lebih baik. Namun juga tidak luput dari pemerintah. Seperti yang dilihat di negara tetangga, Malaysia bagaimana rakyatnya selalu tertib pada peraturan-peraturan pemerintah sehingga bisa menjadi negara yang lebih baik. Lalu terkait dengan hal ini juga perlu ada tenaga kerja yang terdidik, aksesibilitas yang lebih bagus, sehingga daya saing meningkat, perlu strategi bisnis yang bagus, perlu inovasi, perlu efisiensi dan effort yang luar biasa.” (SRS)