Dalam melakukan penelitian dan publikasi ilmiah, dosen sudah seharusnya menjujung tinggi etika. Dosen juga tidak diperbolehkan melakukan plagiat dalam penelitian dan menerbitkan publikasi ilmiahnya. Karena itulah, kualitas dosen dalam melakukan penelitian dan publikasi ilmiah harus terus ditingkatkan. Berdasarkan hal itulah, Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M) menyelenggarakan Sosialisasi Publikasi Ilmiah Tahun 2017 kepada dosen-dosen perguruan tinggi di Yogyakarta. Acara ini juga turut bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dan diselenggarakan pada Rabu (20/9) di gedung AR. Fachrudin A lantai 5 Kampus Terpadu UMY.

Wasmen Manalu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) selaku narasumber menyampaikan bahwa publikasi ilmiah dan penelitian harus mempunyai tujuan. Selain itu, juga bisa memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan suatu ilmu, baik dalam tatanan akademis maupun dalam bentuk bahan buku ajar. “Karya ilmiah yang dilakukan oleh para peneliti sejatinya adalah untuk mencari kebenaran. Sebab karya ilmiahlah yang nantinya akan berpengaruh dalam memajukan ilmu pengetahuan, menemukan teknologi, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi peningkatan peradaban dan kesejahteraan manusia. Maka para dosen dalam melakukan penelitian harus secara mendetail dari segala aspek, sehingga hasil penelitiannya bisa dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam melakukan penelitian tersebut para peneliti dituntut menjunjung tinggi dan menjaga perbuatan dan tindakan yang tidak bertanggung jawab dalam penelitian. Hal lain juga yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yaitu mempunyai kemampuan bernalar, originalitas, tanggap dan sigap, kecermatan, bisa bekerja sama, sikap moral dan memiliki kreasi yang tinggi,” ujar Wasmen.

Wasmen menambahkan ada beberapa perbuatan yang harus dihindari dalam melakukan proses penelitian. “Perbuatan tercela dalam penelitian sering terjadi seperti pemalsuan hasil penelitian (fabrikasi), mengubah atau salah melaporkan data dari hasil penelitian (falsifikasi), menggunakan ide atau kata-kata orang lain (plagiarisme). Kemudian penggunaan informasi khusus tanpa izin, perilaku tidak jujur, pemerasan tenaga peneliti dan pembantu peneliti dan kecerobohan yang disengaja. Hal seperti inilah yang harus dihindari dalam penelitian. Oleh karena itu, semua hasil kajian harus diperlakukan sebagai susceptible to error (rentan terhadap kesalahan),” papar Wasmen.

Kembali ditambahkan Wasmen peneliti harus memiliki etika mulai dari pengelolaan hingga melaksanakan dan melaporkan hasil penelitian ilmiahnya secara bertanggung jawab, cermat dan seksama. “Ada beberapa aspek yang seharusnya melekat pada seorang peneliti. Pertama, kejujuran, menolak praktik rekayasa data ilmiah. Karena jika tidak jujur akan mendorong rusaknya kepercayaan yang menjadi dasar kemajuan ilmu pengetahuannya sendiri. Kedua, amanah, yang mencakup pengakuan dan saling menghormati. Tiga yaitu kecermatan dengan mengupayakan tidak terjadinya kesalahan dalam bentuk kesalahan percobaan, kesalahan metode dan kesalahan manusiawi yang tak disengaja maupun disengaja. Prinsip inilah yang menjadi sumber motivasi ilmuwan untuk berkarya yang berpedoman pada wajib lapor, saling mengisi, dan berbagi informasi dalam memelihara pemupukan khazanah ilmu pengetahuan. Untuk itu saya mengharapkan setelah adanya sosialisasi ini para dosen semua bisa lebih detail dan memperhatikan aspek sekecil apapun dalam proses penelitian, sehingga luaran yang akan kita capai bisa sesuai dan maksimal,” tutupnya.

Selain itu, acara tersebut juga dihadiri oleh beberapa perguruan tinggi seperti Universitas AMIKOM, Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Respati, Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, Universitas Teknologi Yogyakarta, Universitas Mercu Buana, Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Sanata Dharma, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional, Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto, Universitas Aisyiyah Yogyakarta, STMIK El Rahmah dan Politeknik LPP Yogyakarta. Para peserta juga diajak berdiskusi terkait dengan tata cara publikasi jurnal, baik nasional maupun internasional dan menghindari predator jurnal. (Sumali)